{"id":796,"date":"2021-09-15T10:51:00","date_gmt":"2021-09-15T03:51:00","guid":{"rendered":"https:\/\/binamentals.jogjaprov.go.id\/v2\/?p=796"},"modified":"2023-03-07T08:00:55","modified_gmt":"2023-03-07T01:00:55","slug":"raih-kebijaksanaan-jauhi-kebodohan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/?p=796","title":{"rendered":"Raih Kebijaksanaan Jauhi Kebodohan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Berfikir sesaat lebih berharga dibanding beribadah satu warsa.\u201d<\/em> Kalimat ini terdengar biasa di zaman yang penuh dengn rasionalitas atau tradisi berpikir sekarang ini. Namun kita bayangkan, bahwa kalimat itu meluncur dari bibir suci Sang Nabi saw (kehormatan dan rahmat Allah kiranya selalu pada dirinya), hampir 1500 tahun lalu, dan diperdengarkan kepada orang-orang gurun yang belum lama berselang masih bergelimang dalam kejahilan, perang antar kabilah, jual beli budak, penistaan terhadap perempuan, makan bangkai, dan penyembahan kepada berhala.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ya, agama menjunjung tinggi rasionalitas, akal sehat. <em>\u201cAd-diinu \u2018aqlun, laa diina liman laa \u2018aqla lah,\u201d <\/em>agama itu akal sehat, <em>common sense, <\/em>dan agama tidak berlaku atas mereka yang tidak berakal. Maka, benar, hukum tidak dikenakan kepada orang yang lupa atau tidur, kanak-kanak sampai dewasa, dan orang gila hingga dia waras. Sebabnya jelas, akal pada ketiga golongan itu tidak bekerja dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tetapi akal bukan wahyu, meskipun hasil aktivitas akal dan fikir mengandung kebenaran dan kebaikan. Sementara itu, kebenaran wahyu bersifat absolut. Akal dan segala produknya <em>per se <\/em>tidak bisa mensubstusi wahyu Tuhan dan hukum atau <em>rule of conduct<\/em> yang menjadi turunannya. Dan memang, Tuhan memberi kita kebeningan akal serta ketajaman pikir bukan untuk ditandingkan dengan wahyu. Ungkapan lainnya, \u201cWahyu jangan sampai ditabrak atau dilawan dengan ra-yu.\u201d Bukan untuk \u201cditandingkan\u201d, tetapi \u201cdisandingkan\u201d. Paling ideal, akal digunakan untuk memahami dan mengelaborasi wahyu, serta men-<em>strategize<\/em> implementasi wahyu dalam kehidupan. Walhasil, karya-karya manusia apakah yang bersifat keperadaban, kultural, sosiologis, antropologis, maupun politis, sepanjang tidak didisain untuk \u201cmenandingi\u201d wahyu Tuhan \u2026 itulah karya yang \u201cbersanding\u201d dengan wahyu. Dalam tuturan Ali bin Abi Thalib, saat bicara soal <em>taqwa <\/em>atau <em>piety,<\/em> kerja dan amal peradaban harus bermagmakan wahyu Tuhan.<em> \u201cAl-\u2018amalu bi t-tanzil,<\/em>\u201d demikian kata suami Fathimah, puteri Nabi ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita pernah baca percik pemikiran Descartes, <em>\u201cCogito ergo sum,\u201d<\/em> berpikir untuk bereksistensi, atau \u201cAku berpikir, maka aku ada.\u201d Tapi Pascal berkeberatan, dan mencoba me-<em>replace-<\/em>nya dengan <em>\u201cCredo ergo sum,\u201d<\/em> bahwa eksitensi manusa ditopang oleh keyakinan kepada kredo agama, atau iman kepada Tuhan dan yang dititahkan oleh Tuhan. Dua kialimat dari dua filsuf kaliber dunia ini menjadi bermasalah jika dikonflikkan, dan dimuarakan pada dua pilihan <em>to be or not to be, <\/em>\u201cMau pilih akal, atau pilih iman?\u201d Dikhotomi ini jadi tidak sehat, dan akan berimplikasi pada perseteruan tanpa ujung antara kaum rasionalis melawan kaum agamis. Albert Einstein, Sang Jenius Abad XX agaknya tidak sepakat dengan dikhotomi itu. Ia bilang, \u201cIlmu tanpa agama itu buta, dan agama tanpa ilmu itu lumpuh.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Capaian tertinggi aktivitas menggunakan akal dengan benar adalah kebijaksanaan. Jadi, di hari ketiga puasa Ramadhan ini, sungguh tepat jika kita berdoa \u2026<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>\u0627\u064e\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u064f\u0645\u0651\u064e \u0627\u0631\u0652\u0632\u064f\u0642\u0652\u0646\u0650\u064a\u0652 \u0641\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0630\u0651\u0650\u0647\u0652\u0646\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u062a\u0651\u064e\u0646\u0652\u0628\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650\u060c \u0648\u064e\u0628\u064e\u0627\u0639\u0650\u062f\u0652\u0646\u0650\u064a\u0652 \u0641\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0633\u0651\u064e\u0641\u064e\u0627\u0647\u064e\u0629\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u062a\u0651\u064e\u0645\u0652\u0648\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650\u060c \u0648\u064e\u0627\u062c\u0652\u0639\u064e\u0644\u0652 \u0644\u0650\u0649\u0652 \u0646\u064e\u0635\u0650\u064a\u0652\u0628\u064b\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u0650 \u062a\u064f\u0646\u0652\u0632\u0650\u0644\u064f \u0641\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650\u060c \u0628\u0650\u062c\u064f\u0648\u0652\u062f\u0650\u0643\u064e \u064a\u064e\u0627 \u0627\u064e\u062c\u0652\u0648\u064e\u062f\u064e \u0627\u0644\u0652\u0627\u064e\u062c\u0652\u0648\u064e\u062f\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e<\/strong><strong>\u06d4<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>\u201cYa Allah, karuniai aku hari ini kecerdasan dan kesadaran, hindarkan dariku kebodohan dan keterperdayaan, dan beri aku bagian dari tiap kebaikan yang Engkau turunkan di dalamnya &#8230; dengan kepemurahan-Mu, duhai Sang Mahadermawan.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(Djarot Margiantoro)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berfikir sesaat lebih berharga dibanding beribadah satu warsa.\u201d Kalimat ini terdengar biasa di zaman yang penuh dengn rasionalitas atau tradisi berpikir sekarang ini. Namun kita bayangkan, bahwa kalimat itu meluncur dari bibir suci Sang Nabi saw (kehormatan dan rahmat Allah kiranya selalu pada dirinya), hampir 1500 tahun lalu, dan diperdengarkan kepada orang-orang gurun yang belum [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-796","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/796","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=796"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/796\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":798,"href":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/796\/revisions\/798"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=796"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=796"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kesra.jogjaprov.go.id\/v2\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=796"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}