Artikel Biro Kesra DIY Keagamaan Kesehatan

Sehat dan ceria saat puasa

Yogyakarta– Bulan suci Ramadhan tak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Muslim, namun juga menyimpan rahasia kesehatan luar biasa yang kini dibuktikan oleh sains modern. Dr. dr. Sagiran, Sp.B(K)KL., M.Kes., FICS, seorang ahli bedah dan kesehatan, menegaskan bahwa puasa adalah jalan menuju kesembuhan dan kekuatan, sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 184 yang menyatakan, “Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

Dr. Sagiran menyoroti bahwa banyak penyakit degeneratif seperti diabetes, kolesterol, dan jantung muncul bukan karena kekurangan, melainkan karena kelebihan asupan yang menumpuk “sampah” sisa makanan dalam tubuh. Puasa, dengan meneladani Rasulullah, menjadi solusi alami untuk menjaga kesehatan.

Mekanisme “Operasi Tanpa Pisau” dalam Tubuh

Selama 14 jam berpuasa, tubuh mengalami fase-fase penting: 0-4 jam pencernaan aktif, 4-8 jam stabilisasi gula darah, dan 8-14 jam detoksifikasi serta pembakaran lemak dimulai. Di sinilah keajaiban terjadi. Tubuh mengaktifkan mekanisme self-cleaning atau pembersihan mandiri, yang disebut autophagy. Proses ini memungkinkan tubuh “memakan” sel-sel rusak, kista, bahkan tumor ringan saat merasakan lapar – sebuah “operasi tanpa pisau” alami.

Lebih lanjut, puasa terbukti sebagai anti-radang alami yang efektif menurunkan nyeri sendi, mengurangi risiko kanker, dan membersihkan plak lemak dari pembuluh darah. Manfaatnya juga meluas pada penderita diabetes dan obesitas, di mana puasa menurunkan resistensi insulin, membuat tubuh kembali sensitif dalam membakar gula menjadi energi. Bahkan, puasa disebut justru menyembuhkan maag karena pola makan teratur dan ketenangan ibadah meredam asam lambung berlebih.

Sains di Balik Sunnah: Kurma, Air, dan Shalat

Kelemasan dan kantuk saat puasa seringkali disebabkan oleh konsumsi manis berlebih saat berbuka dan sahur, memicu lonjakan insulin mendadak. Dr. Sagiran mengingatkan pada sunnah berbuka dengan kurma dan air. Fruktosa dalam kurma memberikan nutrisi instan bagi otak, membuktikan bahwa sunnah adalah cara sehat tercanggih bagi tubuh.

Selain itu, ibadah shalat juga ditekankan bukan sekadar kepatuhan, melainkan juga memiliki manfaat kesehatan. Tak hanya itu, penelitian menunjukkan bahwa sel-sel darah merah yang dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan tartil menunjukkan respons positif, bahkan dapat memicu sel kanker untuk bunuh diri dan melenyapkan virus autoimun.

“Sehat Gaya Rasul Challenge”: Transformasi Ramadhan 30 Hari

Menyambut Ramadhan, Dr. Sagiran memperkenalkan “Sehat Gaya Rasul Challenge” – sebuah program transformasi gaya hidup 30 hari yang menyinergikan Thibbun Nabawi (pola hidup Rasulullah) dengan sains kesehatan modern. Program ini mencakup pendekatan nutrisi modern, aktivitas fisik terukur, dan mengikuti pola makan serta kebiasaan Rasulullah.

Peserta dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu:

  • Kelompok Kurma: Hanya mengonsumsi 7 butir kurma saat sahur dan berbuka.
  • Kelompok Air Zamzam: Mengganti salah satu sesi asupan dengan air zamzam.
  • Kelompok Olahraga: Menjaga keaktifan fisik dengan olahraga rutin (15-30 menit) sesaat sebelum berbuka.
  • Kelompok Defisit Kalori: Membatasi asupan maksimal 80% dari kebutuhan kalori harian.

Hasil awal program ini sangat menjanjikan, dengan peserta melaporkan penurunan berat badan hingga 3,2 kg dalam 1 pekan.

Ramadhan, menurut Dr. Sagiran, adalah sarana pembersihan hati dan raga, agar setiap individu keluar sebagai manusia yang suci seutuhnya. Bagi Anda yang tertarik untuk mengikuti program transformasi ini, “Sehat Gaya Rasul Challenge” menawarkan kesempatan terbatas untuk mendaftar. Berpuasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan investasi kesehatan yang tak ternilai.