YOGYAKARTA – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengambil langkah tegas dalam menangani isu kesehatan jiwa dengan menggelar acara Ekspose Monitoring dan Evaluasi (Monev) Rencana Aksi Daerah (RAD) Kesehatan Jiwa DIY Tahun 2025-2027. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Wisanggeni pada Senin (20/7/2026) ini bertujuan untuk memastikan implementasi regulasi berjalan efektif di lapangan,.
Berdasarkan data Riskesdas 2018, DIY menghadapi tantangan besar dengan prevalensi gangguan jiwa berat mencapai 10,65 per 1000 rumah tangga. Angka ini menempatkan DIY pada posisi tertinggi kedua secara nasional. Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda DIY dalam sambutannya menekankan bahwa tantangan ini tidak hanya mencakup aspek medis, tetapi juga persoalan sosial dan struktural, termasuk dampak pasca pandemi serta stigma masyarakat yang masih kuat terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Pemda DIY telah menetapkan Peraturan Gubernur Nomor 71 Tahun 2024 tentang RAD Kesehatan Jiwa 2025-2027. Dokumen ini berfungsi sebagai panduan operasional bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak secara terpadu dalam memantau capaian target, mengidentifikasi hambatan di berbagai level wilayah, serta melakukan sinkronisasi data lintas sektor,.
Dalam forum evaluasi ini, pemerintah menitikberatkan pada empat pilar utama strategi kesehatan jiwa, yaitu:
- Perbaikan tata kelola data kesehatan jiwa agar lebih akurat.
- Penguatan kelembagaan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM).
- Peningkatan kualitas layanan, mulai dari upaya promotif hingga rehabilitatif.
- Peningkatan peran serta masyarakat guna menciptakan lingkungan inklusif yang bebas dari stigma.
Acara ini menghadirkan berbagai narasumber ahli, di antaranya dr. Anisya Ulfah Hanum dari Dinkes DIY, Dr. Supriyati dari FK-KMK UGM, dan Siswaningtyas Tri Nugraheni dari Pusat Rehabilitasi Yakkum,. Kolaborasi ini juga melibatkan berbagai organisasi mitra strategis seperti RSJ Grhasia, Yayasan Satu Nama, KPSI, dan PJS.
Melalui sinkronisasi ini, diharapkan muncul laporan Monev yang objektif serta profil perkembangan kesehatan jiwa yang nyata. Langkah kolektif ini diharapkan mampu mewujudkan masyarakat DIY yang sehat secara fisik, sosial, dan kejiwaan secara berkelanjutan









